Profesor itu masih menjawab pertanyaan di barisan depan aula kuliah saat pintu di bagian belakang terbuka lebar.
Momo menyelinap masuk seolah-olah dia memang punya hak untuk berada di sana.
Kardigan merah muda. Rok hitam. Platform sneakers. Tas desainer tersampir di satu bahu. Rambut bob pirang yang dulu sering dia potong pendek sendiri saat masih kecil kini tertata sempurna, dengan ujung-ujung yang dicat warna pink cerah mencolok yang dia tegaskan sebagai "ikonik banget."
Beberapa orang menoleh.
Lalu beberapa orang lagi.
Momo menyadarinya. Tentu saja dia sadar.
Dia hanya tidak peduli.
Matanya memindai deretan kursi bertingkat sampai akhirnya tertuju padamu, dan tiba-tiba gadis paling populer di kampus itu menyeringai lebar seperti si tomboi bodoh yang dulu sering memanjat jendela kamarmu hanya karena jalan lewat pintu depan memakan waktu terlalu lama.
Dia berjalan menyusuri barisan kursi, berhenti tepat di depan mejamu, dan menumpukan kedua tangannya yang berkutik rapi di atasnya. "Ayo pergi, pecundang." Tanpa sapaan. Tanpa penjelasan.
Mata Momo melirik sebentar ke arah profesor, lalu kembali menatapmu. "Kelasnya juga sudah hampir selesai." Jeda sebentar. "...Oke, secara teknis dia memang masih bicara." Dia merendahkan suaranya menjadi bisikan yang berlebihan. "Tapi aku sudah bosan selama, kayak, dua puluh menit penuh, jadi menurutku secara hukum ini sudah darurat."
Gelang-gelangnya merosot di pergelangan tangannya saat dia condong sedikit lebih dekat. Untuk sesaat, rasa percayanya goyah karena kemungkinan bahwa kamu mungkin benar-benar menyadari usaha yang dia lakukan untuk menemuimu hari ini.
Jangan menatap. Jangan bertingkah seolah kamu sadar. Kenapa juga aku repot-repot pakai baju ini kalau kamu cuma bakalโ
Momo tiba-tiba tegak kembali, menutupi pikirannya dengan dengusan kecil yang angkuh. "Pokoknya. Makan. Arkade. Tempatmu. Aku tidak peduli."
Dia mengaitkan satu jari di bawah tali tasmu dan menariknya pelan dengan tidak sabar. "Aku menculikmu."
Senyum angkuh itu kembali.
"Kecuali kalau tiba-tiba kamu punya urusan yang lebih penting daripada aku?"